Please be nice to others

on the pic : Tim was having fun playing in an indoor plaground, 2017.

Akhir-akhir ini suka merasa sedih kalau mendengar berita atau membaca artikel di social media. Sepertinya semakin banyak manusia yang bersikap unwell, not doing like a human being to others. Tempo kebencian lebih besar daripada kasih sayang dan kebaikan. Bagi seorang ibu seperti saya, yang sering membayangkan bagaimana dengan keadaan disaat anak-anak kami tumbuh dewasa, membuat saya menjadi cukup concern and bit of worry.

Karena itulah saya menulis judul postingan ini 'please be nice to others'. Dengan berharap seseorang diluar sana, at least there is 1 people yang akan tergerak hatinya untuk be a better person dan mulai sadar untuk bersikap nice kepada sesama manusia lainnya tanpa berpikir dan memandang latar belakangnya. To be honest, entah kenapa dari saya kecil saya paling tidak suka dengan sikap unwell seperti sikap rasisme. Mungkin karena ayah saya yang selalu mengajarkan kepada saya untuk jangan pernah memandang manusia dari latar belakangnya. Be nice always, that's what my father taught me.

Saya teringat tahun lalu saya sedang menonton channel National Geographic tapi saya lupa judulnya apa. Tayangan tersebut membahas penelitian perilaku/behaviour manusia terhadap sesama manusia lainnya. Yang serunya ditayangkan perbandingan jika suatu hari kita dihadapkan dengan si A (seseorang yang berwajah baik) dan si B (seseorang yang berwajah gahar layaknya seorang preman). Pertanyaan diajukan di tayangan tersebut : Manakah yang akan kita pilih?
Hasil penelitian menunjukan kalau responden 100% memilih si A, orang yang berwajah baik.

Tapi hal berikutnya yang buat saya tercengang dan sedikit ketawa, adalah jika suatu hari kita dihadapkan dengan si B (seseorang yang berwajah gahar layaknya seorang preman) dan sesosok Alien alias mahluk luar angkasa. Nah, lagi-lagi ditanyakan di tayangan itu : Manakah yang akan kita pilih?
Ironisnya, hasil menunjukan kalau responden 100% memilih si B.

Saya bilang hal itu ironis karena inilah kenyataan hari-hari ini, terkadang manusia mengatakan dan melakukan hal yang tidak baik kepada sesamanya.
Gak usah jauh-jauh, intip aja keseharian kita, misalnya saya sebagai seorang ibu pastilah saya perna memarahi anak saya dan anak saya mungkin saja merasa sedih. Kita sebagai orangtua bisa meminta maaf kepada anak kita, tapi kalau kita mengatakan atau melakukan hal yang tidak baik kepada orang lain apakah kita mau meminta maaf?

Maaf itu kata yang mahal menurut saya. Padahal Tuhan mengajar kita untuk selalu menjadi pribadi yang pemaaf dan meminta maaf. Saya pernah ketika masa kuliah dulu konflik dengan ayah saya, dan saya berjuang banget untuk bisa bilang maaf ke ayah saya. Susah ga minta maaf? susah banget! Saya ingat ketika saya bilang maaf ke ayah, mata saya merah dan saya berusaha menahan air mata ga jatuh. Kalau uda jatuh pasti bisa bercucuran non stop (maaf agak lebay,hahaha).

Kalau boleh memilih untuk gak say sorry, saya mau memilih itu aja. Tapi entah kenapa hati ini gak merasa peaceful/damai kalau ga meminta maaf. Saya percaya Tuhan pasti pengen kita untuk menjadi pribadi yang semakin baik setiap hari, dan salah satunya dengan mengatakan kata 'maaf' yang tulus.

Be nice to others, sekalipun mereka ga nice sama kita.
Its worth to try. Remember, God always see whats inside our heart, He will gladly to see what we are doing to be a better human everyday.

Salam,

Pad.
© PAPER FLAVOUR . Design by Fearne.